Mati Lampu di Perpustakaan

Sore itu di sebuah perpustakaan kota yang nampak sudah sangat tua, kelihatan dari warna dinding yang telah pudar, ditambah lagi rumput liar di sekitar gedung perpustakaan itu mulai tinggi. Masih dalam kondisi berantakan, buku-buku dalam perpustakaan itu nampak begitu kotor bahkan ada pula buku yang lembar-lembar halamannya tidak lagi melekat pada sampulnya. Untuk sebuah gudang ilmu, perpustakaan itu memang pantas disebut gudang tapi tidak layak melekat kata ilmu setelahnya. Belum lagi lantai dan meja-meja tempat biasa pengunjung untuk membaca masih berdebu, mungkin sudah lama debu itu menempel di hampir seluruh ruangan, namun pustakawan baru tersebut tidak ambil pusing akan hal itu.

Masih dengan kondisi umpama kapal pecah, tiba-tiba datang seorang lelaki paruh baya memasuki perpustakaan dan membawa sesuatu ditangannya. Bentuknya persegi panjang, tebal dan dibungkus kantong plastik hitam yang dililit banyak lakban bening. Sang pustakawan menghampiri orang tersebut, seolah memberi isyarat bahwa orang itu tidak boleh masuk lebih jauh. Lama sang pustakawan bicara dengan orang itu, sesekali sang pustakawan menunjuk ke sekeliling sambil terus menjelaskan.

Mendengar perkataan sang pustakawan, orang tersebut memberikan barang yang ia bawa pada sang pustakawan dan langsung beranjak pergi. Sang pustakawan pun menerima paket itu dengan wajah melas tidak bergairah, dan ternyata barang tersebut adalah sebuah paket yang berisi koleksi buku-buku baru, namun diantara semua yang ada di perpustakaan itu ada yang begitu senang akan kehadiran buku-buku tersebut, ia adalah lampu tua perpustakaan. Ia merupakan lampu yang paling tua diantara lampu-lampu yang lainnya, bisa dikatakan bahwa lampu itu adalah saksi akan kejadian yang pernah ada di dalam perpustakaan dari masa ke masa.

Ia merasa sangat bahagia ketika mendengar kehadiran buku baru di perpustakaan. Bagaimana tidak, sudah lama sekali tidak ada pengunjung yang datang untuk membaca di perpustakaan, hingga ia tidak pernah membaca buku lagi, langsung terbayang cerita dan hal-hal menarik yang akan lampu itu temui. Ia mulai membayangkan kisah heroik dari tokoh dalam buku yang baru saja datang, bisa jadi kisah asmara yang terjadi atau mungkin saja kisah pilu seperti buku yang terakhir kali ia baca.

Ia ingat betul pada sosok wanita yang bernama Santi. Tepatnya dua tahun yang lalu, sosok wanita yang memiliki senyum paling manis dan menjadi rebutan para pemuda di kota ini. Tapi sayang, para pemuda tidak cukup pintar untuk merebut hati Santi si kutu buku. Hampir setiap hari Santi mengunjungi perpustakaan untuk membaca buku, orangnya yang ramah dan suka menyapa membuat pengunjung perpustakaan yang lain mengenal baik dirinya. Bahkan ketika Santi memilih menjalin hubungan dengan pria asal kota sebelah, ia juga sering membawa pria itu ke perpustakaan untuk menemaninya membaca barang dua atau tiga jam, yang bagi sebagian orang hal itu jauh dari kata romantis. Berkencan di sebuah perpustakaan.

Si lampu tua terus saja membayangkan kembali kejadian yang ia saksikan. Seperti kejadian malam itu, malam yang semakin pekat ditambah hujan yang lebat menambah sunyi dan dinginnya seisi perpustakaan. Cuaca cerah saja terkadang sunyi pengunjung, apa lagi ketika diguyur hujan. Namun seperti biasa, Santi si kutu buku mendatangi perpustakaan, tapi kali ini ia datang sendiri tanpa membawa sang kekasih. Ia seperti tidak mengenal kata penghalang. Katanya ada bacaan yang belum ia selesaikan pada sang pustakawan.

Hujan semakin deras dan sesekali angin kencang bertiup, disisi lain Santi sibuk sendiri dengan bacaannya, sampai-sampai lupa bahwa jam operasional perpustakaan telah selesai. Sang pustakawan coba menghampiri Santi untuk mengingatkan bahwa perpustakaan sudah mau tutup. Tapi belum beberapa langkah sang pustakawan berjalan, tiba-tiba dari pintu depan masuk beberapa pria berbaju loreng-loreng dan menenteng senjata laras panjang dengan tergesa-gesa.

“Selamat malam pak”
“Iya malam pak, ini ada apa ya, pak? Jawab sang pustakawan heran.
“Apakah disini ada orang yang bernama Santi?”

Belum juga sang pustakawan sempat menjawab, orang-orang berbaju loreng-loreng itu telah melihat Santi yang secara bersamaan Santi juga mendengar dan menoleh kearah orang-orang berbaju loreng-loreng yang melihatnya.
“Saya sudah menghabiskan bacaan saya pak, silahkan bawa saya sekarang pak” ucap Santi dengan tenang dan tersenyum tanpa ada rasa gentar dan bingung seperti yang dirasakan sang pustakawan. Sang pustakawan yang tidak mengetahui apa-apa, malam itu hanya bisa diam dan terus mengikuti alur apa yang akan terjadi malam itu. Satu diantara orang-orang berbaju loreng-loreng itu menghampiri Santi dan mengikat pergelangan tangannya.
“Kamu cepat tutup perpustakaan ini dan pulang, ini sudah larut malam, jangan sampai kamu jadi korban salah sasaran” kata salah seorang dari orang-orang itu pada sang pustakawan.


Sejak kejadian malam itu, Santi tidak pernah kembali lagi ke perpustakaan, bahkan di kota ini seolah tidak ada seorang wanita yang bernama Santi. Ia tiba-tiba lenyap begitu saja ditelan bumi, tapi dari desas-desus sebagian pemuda yang ternyata masih menyimpan perasaan pada Santi mendapati kabar kalau ia dibawa oleh beberapa pria berbaju loreng-loreng itu karena ia ikut terlibat dalam organisasi wanita yang memang saat ini kader-kadernya menjadi incaran, sama seperti kekasihnya yang tergabung dalam anggota partai yang juga ikut diburu.

Sungguh kisah yang pilu sekaligus kisah terakhir yang si lampu tua baca bersama seorang pelancong yang iseng-iseng mampir dan membaca novel kisah Santi hingga habis di perpustakaan ini dua tahun lalu. Setelahnya, si lampu tua tidak dapat lagi membaca akibat perpustakaan yang memang sengaja ditutup, akibat krisis ekonomi yang melanda negeri ini juga berimbas pada kota tempat perpustakaan ini berada.

Penasaran terus saja menggeliat dalam pikirannya, berharap agar sang pustakawan itu lekas membuka lembar-lembar buku baru tersebut. Lama ia mengamati, sang pustakawan hanya mengotak-atik komputer yang berada di meja kerjanya.
“tolonglah cepat baca buku itu di sini pak, aku janji akan memberi penerangan untukmu” ucap si lampu tua.

Terus memandangi sang pustakawan dan buku itu, seperti menyaksikan pertunjukan yang begitu menarik sampai-sampai tidak ingin terlewatkan walau hanya sedetik. Setelah sekian lama sang pustakawan bergelut dengan komputernya akhirnya ia berjalan perlahan menuju meja yang persis berada di bawah lampu itu, ia meletakkan buku baru di atas meja yang berada di bawah si lampu tua yang ‘kutu buku’ itu.

“huuu.. akhirnya, ya cepat buka bukunya pak” ucap lampu tua itu lagi. Namun sang pustakawan hanya berdiri dan terdiam. Setelah lumayan lama sang pustakawan berdiri dan hanya diam, di ambilnya lagi buku yang tadi ia letakan di atas meja, kemudian menaruhnya di rak yang berada tepat di depan meja baca tersebut, lalu sang pustakawan beranjak pergi menjauhi meja dan lampu itu.

“Ah.. Sial ternyata dia hanya mencari tempat menyimpan buku baru itu, dasar pustakawan malas membaca” gerutu lampu itu. “Andai saja aku bisa bertukar nasib denganmu, mungkin aku senang menjadi penjaga perpustakaan ini tanpa bayaran sepeserpun” teriak lampu tua itu sambil mematikan cahayanya.

Sontak petugas itu kaget dan berbalik melihat lampu yang tiba-tiba saja padam, ”Ah.. Bikin kaget saja, lampu tua sialan. Besok akan ku ganti kau” seru sang pustakawan.

Orang Gila, Kafir atau Setan

Namanya Siddiq lelaki kurus dan jangkung. Usianya 2 tahun di atasku, ia salah satu pemuda yang memilih tinggal di desa daripada harus merantau ke kota. Baginya kota dan desa sama saja, tinggal menunggu waktu giliran desa mana lagi yang akan menjadi kota, karena memang kota-kota besar tempat merantau para pemuda desa, dulunya juga adalah sebuah desa. Hanya karena egoisnya manusia maka dibuatlah sebuah kota dengan iming-iming kemajuan ekonomi, padahal tanpa gedung-gedung tinggi kita juga bisa hidup.

Sebagai pemuda desa Siddiq memiliki wawasan pengetahuan yang tak kalah dibanding pemuda kota. Mungkin kebiasaan sering membaca koran dan buku-buku yang entah dari mana ia dapatkan itu, membuatnya tidak pernah ketinggalan berita. Orang-orang desa sudah paham betul, jika ingin tahu informasi pasti bertanya pada Siddiq.

Pernah satu waktu pak Burhan mendatangi Siddiq untuk bertanya tentang perkebunan. Sepulang dari situ pak Burhan dikenal sebagai orang yang cakap soal perkebunan dibanding warga desa lainnya. Hal yang sama juga dilakukan Udin pemuda tanggung yang putus sekolah dan memilih membuka bengkel kecil di desa. Kini bengkel miliknya telah berkembang setelah konsultasi pada Siddiq, dan usahanya pun sudah besar dan memiliki banyak pekerja.

Siddiq memang sudah sangat terkenal sebagai orang yang serba tahu serta dapat dipercaya. Namun karena ia tidak tamat sekolah, di mata warga desa ia hanyalah pemuda biasa. Walau sebenarnya aku dan beberapa kawan diam-diam iri pada Siddiq karena memiliki wawasan yang luas dibanding kami yang notabene lulus hingga perguruan tinggi. Namun rasa iri kami hanya sebatas pemikiran, tidak lebih. Toh warga desa lebih menghargai dan membangga-banggakan kami yang lulus kuliah ketimbang dia.

Selain cerdas, ia juga orang yang murah senyum dan suka menolong. Saban hari ia menghabiskan waktunya berkeliling desa mencari siapa saja yang butuh bantuan, mulai pagi buta hingga tengah hari seperti pahlawan yang selalu ada untuk orang lain dan sore harinya ia membantu anak-anak mengerjakan tugas sekolah atau sekadar mendongengkan, sampai-sampai warga desa sudah terbiasa dibantu olehnya hingga lupa mengucap terimakasih, seolah-olah memang itu merupakan kewajiban Siddiq.

Namun semua itu seketika lenyap, hampir seluruh warga desa membencinya bahkan ada yang tega memukul jika berpapasan dengannya. Segala macam tuduhan disematkan padanya; gila, kafir, setan. Warga desa yang awalnya selalu mendatangi rumahnya saat ada masalah, kini menghina dirinya. Ia sudah tidak lagi bisa keliling desa seperti kebiasaannya dulu sebab setiap ia ingin membantu pasti selalu ditolak mentah-mentah atau kadang dilempari batu.

Ketidaksukaan warga desa padanya bermula, lepas pengajian di salah satu rumah warga. Para bapak-bapak dan pemuda desa duduk bercengkrama sambil menikmati kopi, lama kami bercerita yang pembahasannya entah apa, asal masuk pasti di bahas.

Pak Burhan mengganti topik pembicaraan.
“Kira-kira kita ini masih sempat saksikan tanda-tanda kiamat besar seperti munculnya kabut dukhan ?” Pak Burhan mengawali pembahasan dengan sebuah pertanyaan.
“Yah kalau dengar-dengar di ceramah sih, katanya tahun Hijriyah tidak sampai 1500 pak dan kalau liat kalender Hijriyah sekarang kan sudah 1440. Jadi kurang lebih 60 tahun lagi pak” jawab pak Acep
Seketika kami semua hening dan saling menatap satu sama lain.
“Allahu alam, yaa pak. Kita tidak ada yang bisa tahu kapan kiamat, kalau Tuhan berkehendak besok juga jadi” ucap pak Narto imam mesjid yang juga merupakan orang tua paling didengar warga desa.
Suasana kini kembali santai seperti semula. “Kalau kamu Siddiq bagaimana, siapa tahu punya pendapat atau pernah baca tentang kiamat?” Sahutku

Seluruh wajah kami terpaku pada Siddiq tanda bahwa kami ingin mendengar pendapatnya. Ia senyum memandangi kami semua lalu berkata “bagiku pertanda kiamat besar pertama pada sabda Rasulullah bahwa akan muncul kabut dukhan itu sudah terjadi saat ini tanpa kita sadari.” Sekali lagi kami semua serentak heran dengan perkataan Siddiq, “maksudmu ini apa Siddiq?” Pak Narto bertanya dengan nada yang agak tinggi.
“sabda itu menurutku sebuah kiasan. Jadi kabut yang disebutkan Rasulullah tidak serta-merta dimaknai sebagai kabut.”
“Terus menurutmu apa?” Tanya pak Narto lagi, perbincangan ini mulai berubah menjadi ruang tanya jawab antara Siddiq dan pak Narto sang imam mesjid.
“Kabut yang dimaksud itu adalah sifat. Bagi mereka yang kikir, iri hati, dan sombong pasti tidak akan pernah merasa cukup itu mengapa mereka terus saja berlomba-lomba saling sikut sampai rela mengorbankan segalanya. Merekalah sebenarnya orang yang terbakar dan kelaparan di tengah dukhan atau ujian Tuhan saat ini, tapi bagi mereka yang selalu bersyukur pastilah merasa cukup dan tidak akan kelaparan seperti kata kiasan dalam sabda Rasulullah”

Malam makin larut namun tidak satupun dari kami yang mengantuk, kelihatan jelas bahwa semua orang keheranan.
“Kalau tentang munculnya Dajjal bagaimana?” Pertanyaan kembali muncul dan sudah pasti Siddiq diminta untuk menjawabnya. Kembali, Siddiq mengawali dengan senyuman “begitu pula dengan Dajjal, sudah banyak Dajjal yang berkeliaran di muka bumi ini, Dajjal adalah sebutan bagi mereka yang memandang sesuatu atau orang lain sebelah mata, dan pandangan seperti itu dapat merugikan dirinya atau orang lain serta bisa menyebabkan fitnah”. Siddiq berhenti untuk mengambil napas dan melanjutkan “Dan jika kalian juga ingin tahu perihal matahari yang terbit dari barat, bagiku juga itu adalah kiasan. Coba kita lihat kondisi saat ini, semua negara-negara berpatokan pada dunia barat, padahal dulu ketika dimasa kejayaan Islam yang berbasis di timur tengah, kita merupakan kiblat peradaban. Mulai dari teknologi, pengobatan, adab, dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya. Namun perlahan-lahan cahaya Islam mulai meredup, diawali dengan konflik antara sesama muslim dan juga serangan dari musuh-musuh muslim itu sendiri. Seperti mercusuar pengetahuan terakhir milik Islam yang berada di Bagdad, dihancurkan pasukan Mongol dan buku-bukunya dimusnahkan.”

Tiba-tiba pak Narto bangkit dari duduknya dan langsung menampar Siddiq. “Kamu ini bicara ngawur!” seketika ia roboh ke tanah akibat tamparan keras pak Narto, kami semua pun semua kaget menyaksikan kejadian malam itu, pak Narto sosok agamawan yang taat dan panutan warga desa tiba-tiba menampar Siddiq.
“Oh, jangan-jangan kamu ini sudah kafir yaa” pak Narto kembali ingin memukul Siddiq, tapi kami mencoba menahan. Pembicaraan yang bermula santai kini berakhir ricuh, orang-orang pun yang sependapat dengan pak Narto juga mencoba ingin memukul Siddiq, ekspresi kaget bercampur takut tergambar jelas di wajah Siddiq. Suasana menjadi panas, sesekali pukulan orang-orang mengenai Siddiq hingga akhirnya pak Burhan menyuruh Siddiq untuk lari pulang.

Aku pun yang menyaksikan kejadian itu merasa syok, pembicaraan yang mulanya santai berubah menjadi insiden pengeroyokan. Padahal kalau dipikir-pikir ucapan Siddiq itu hanyalah sebuah pendapat dan sedikit persis dengan kondisi saat ini. Namun apapun itu, semenjak kejadian malam itu Siddiq dibenci oleh hampir seluruh warga desa, bahkan ketika ingin membantu ia dibentak bahkan sampai dilempari batu. Dan pada akhirnya ia pun memilih untuk terus di rumah, kalaupun keluar rumah ia hanya sesekali, itu pun hanya di teras rumah. Kini ia tidak lagi dianggap sebagai orang yang dapat dipercaya. Ia telah berubah menjadi orang gila, kafir, atau setan. Itu sebutan baru untuknya dari warga desa, karena sudah menyampaikan pendapatnya malam itu.

Hikayat Pendaki Gunung

Mendaki gunung membuatnya lupa akan perkara dunia. Perjalanan yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Batu-batu cadas, semak belukar, rotan berduri, hawa dingin sudah jadi kawan akrab. Baginya gunung telah menjadi rumah kedua setelah rumah orangtua, setiap kali ia gelisah, gunung menjadi tempat pelariannya.

Semua orang yang mengenalnya sudah pasti tahu kebiasaan itu, namun tidak pernah tahu pasti mengapa ia begitu tergila-gila mendaki gunung, karena setiap kali ia ditanya kenapa terus mendaki gunung, ia hanya menjawab bahwa ia akan bersuci dan menghadap Tuhan. Mungkin bagi sebagian orang mendaki gunung hanyalah bentuk pembuktian diri, itu juga mengapa tidak semua orang ingin mendaki gunung yang sama berulang kali. Tapi ia, selalu mendaki gunung yang sama setiap minggunya.

Keluarganya telah berulangkali menegur kebiasaan itu. Tapi tetap sama, tiada yang bisa menghentikannya untuk terus mendaki gunung. Kegilaan pada gunung membuatnya terasing bahkan disangka gila oleh sebagian orang. Apalagi sepulangnya dari mendaki gunung, seperti ada perubahan dari dirinya, ia juga bersemangat dan tidak menampakkan wajah lelah sedikit pun.

Lama ia melakukan kebiasaan itu membuatnya lupa kalau ia telah semester 14, itu berarti tidak lama lagi selesai kuliah. Entah selesai dengan membawa ijazah atau surat keterangan pernah kuliah (D.O). Tetapi rasanya selesai dengan membawa ijazah tidak mungkin ia lakukan, lantaran kuliahnya sering terabaikan karena kebiasaan mendaki gunungnya itu.

Pribadi yang tenang dan kurang bicara adalah identitasnya, setiap orang yang baru sekali bertemu dengannya selalu saja ingin mengenal lebih jauh siapa ia sebenarnya. Warna kulitnya sawo matang, tubuhnya tidaklah tinggi namun tidak pula pendek, berat badan pun ideal, rambut yang tidak lurus tidak pula keriting itu sungguh bebas mau di bagaimanakan. Tiada kecacatan darinya, hanya saja sorot mata yang tajam itu juga dapat mengintimidasi seseorang, tapi jangan salah, senyumannya pun mampu melelehkan setiap hati yang beku.

Ku tahu orang-orang mungkin menyebutku gila, keluargaku pun mulai khawatir akan kebiasaan ini. Namun sungguh ini hal yang nikmat bagiku. Menaiki batu demi batu, jalanan yang licin, tumbuhan berduri walau sedikit menyiksa, terus kulakukan. Bagiku menaiki gunung merupakan jalan menuju Tuhan. Kalau tiba saatnya aku merasakan lelah dan seolah ingin menyerah, ingatan ini seperti membawa ku kembali pada bacaan-bacaan tentang kisah para orang-orang pilihan Tuhan.

Keteguhan hati para pembawa risalah itu tiada tandingannya, rela berkorban demi kaum yang tidak ada hubungannya dengan mereka, itu semua mereka lakukan hanya karena ingin menyampaikan perintah Tuhannya. Disaat orang lain pergi ke masjid, gereja, wihara, ataupun pura untuk beribadah. Aku memilih gunung sebagai perantara ku menghadap Tuhan.

Gunung mungkin diciptakan Tuhan sebagai penanda bagi umat manusia yang lemah dan rapuh ini, agar terus berjuang untuk mencapai Tuhannya. Seperti Kesetiaan serta kepercayaan terlukis jelas di puncak gunung Sinai, Jabal Rahmah mengukuhkan dua insan perindu yang tersesat, Bukit Golgota jadi saksi bahwa cinta kasih mengalahkan rasa perih dan mati, Jabal Tsur mengabarkan bahwasanya takut dapat takluk pada taat.

Banyak momen yang Tuhan gariskan di gunung. Ku ingat benar saat pertama kali aku bertemu dengan para nabi ketika mendaki, ia Adam sedang berdiri diantara ilalang panjang, mengajak ku bercerita perihal kepercayaan Tuhan yang begitu besar diberikan padanya, banyak pelajaran yang diajarkan oleh Tuhan pada Adam semenjak awal penciptaannya, namun hawa nafsunya meronta hingga Tuhan sejenak luput dari hatinya, Adam boleh saja melupakan Tuhan tapi Tuhan tidak akan pernah melupakan Adam. Dan sejak saat itu, Adam malu menghadap langsung pada Tuhan.

Surga mengusirnya, dan hingga kini ia kambing hitam atas turunnya manusia ke bumi. Hari itu aku tahu, Adam tidak sepenuhnya salah karena aku yakin kalau Tuhan telah mempersiapkan hal itu agar Adam lebih bebas dan mandiri untuk belajar dari kehidupan baru yang akan ia jalani nanti. Dengan turunnya Adam, surga menjadi punya makna, manusia di bumi telah memberi harga pada surga hingga rajin beribadah.

Pertemuanku dengan Musa pun tak kalah menarik. Sama, ia juga bercerita seperti Adam. Ujian yang ia terima juga tak kalah beratnya, mendidik suatu kaum yang terkenal cerdas namun keras kepala. Ia begitu marah ketika tahu bahwa umatnya menyembah berhala sapi saat ia bertemu Tuhan untuk menerima 10 perintah Tuhan. Ia menutup ceritanya dengan senyum sambil mengangkat tangan kanannya tanda bahwa aku tidak boleh bertanya, ia paham betul kalau aku ingin tahu lebih lanjut akan kisahnya, tapi ia tidak memberiku waktu dan sekali lagi ia memberiku tanda dengan mengelus dada kirinya sembari tersenyum.

Kejadian pertemuanku dengan Adam dan Musa belum lah apa-apa. Pendakian selanjutnya mempertemukan ku pada Isa, senangnya bukan main. Ku pandangi Isa dari jauh dan ia juga melihatku sambil tersenyum, kali ini aku akan coba bertanya apa yang sebenarnya terjadi padanya, apakah benar kejadian di bukit Golgota atau ia diangkat Tuhan ke surga. Posisi ku tepat di hadapannya, tapi belum ku lontarkan pertanyaan, ia langsung membentak ku. Katanya pertanyaan yang akan ku lontarkan hanya akan membuat keras hati dan tidak ingin mendengar pendapat orang lain, sebab Tuhan juga mengajarkan manusia untuk selalu saling mencintai. Karena para nabi diutus untuk menyampaikan hal yang sama dengan penuh cinta kasih pada setiap kaum dan setiap masa, agar tunduk pada perintah Tuhan. Aku pun tertunduk mendengar perkataan yang ia ucapkan dengan nada sedikit keras, ia juga menegur atas kelalaian ku, padahal sebelumnya Musa telah memberiku tanda tapi aku tidak begitu mengerti dan tidak ingin mencari tahu tentang tanda yang diberikan Musa.

Kali ini aku memberanikan diri bertanya, apakah setelah bertemu dengannya aku akan bertemu Muhammad? Pertanyaan yang sengaja ku keluarkan, sebab aku belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan ku sebelumnya yang sudah terlanjur ia ketahui padahal belum ku sebutkan. Ia pun berkata bahwa sebenarnya aku telah bertemu Muhammad di banyak kesempatan tapi aku tidak menyadarinya. Sekali lagi aku tidak teliti dan lalai dalam menjalani hidup.

Ia memintaku untuk duduk tepat di sebelahnya, kini aku berada sangat dekat dengannya. Ia memintaku melakukan hal yang sama seperti Musa, mengelus dada kiriku tapi kali ini ia juga menyuruhku menutup mata. Mula-mula aku tidak merasakan apa-apa, hanya seperti orang bodoh yang mau disuruh apa saja. Namun makin lama, terasa gerak denyut jantungku, terus hingga seolah terdengar di telinga, menuju kepala dan berputar-putar pelan, pelan, pelan. Tiba-tiba semakin kencang dan lenyap.

Kata ibunya, ia sudah sebulan tak pulang rumah. Hanya catatan kisah aneh ini yang ada di atas meja belajarnya. Entah kemana ia pergi, tidak ada lagi kabar tentang dirinya. Tiada pula berita bahwa ditemukan jasad di gunung yang sering ia daki. Mungkin saja ia moksa, pikirku.

Bukan Hanya Sebagai Dongeng Pengantar Tidur Semata

Sudah 5 tahun semenjak lulus kuliah, aku sempat berpindah-pindah tempat kerja. Namun kini aku memilih bekerja di perusahaan tambang dan tidak ingin pindah lagi, gajinya lumayan besar, bisa untuk melunasi cicilan rumah dan mobil sekaligus. Tapi akhir-akhir ini rasanya aku ingin segera berhenti saja dari pekerjaan yang telah memberiku penghidupan selama 3 tahun terakhir bersama keluarga.

Perasaan ini bermula ketika waktu itu Saat ingin pulang, lama aku terhenti di lampu merah. Sungguh ini kota yang begitu padat, hingga hidup manusia-manusia di kota ini terbagi tiga. Rumah, jalanan dan tempat kerja. Itulah kehidupan masyarakat perkotaan yang tidak bisa dihindari.

Ketika sedang mengantri menunggu lampu hijau, datang seorang pengamen ke arahku, menuju kaca jendela. rambutnya gondrong, pakaian kucel, kulit hitam legam akibat terlalu lama kena sinar matahari. Seperti kebiasaanku ketika didatangi pengamen. Pura-pura tidak melihat dan tidak ingin menurunkan kaca jendela mobil hingga pengamen itu bosan sendiri mengetuk kaca jendela dan pergi. Pasti dia hanya mau uang dan menyanyi tidak karuan, pikirku.

“Lihatlah negeri kita yang subur dan kaya raya, sawah ladang terhampar luas, samudra biru” sontak aku kaget, lagu yang ia nyanyikan adalah lagu dari band “Marjinal, berjudul negeri ngeri”. Lagu ini juga mengingatkanku pada masa kuliah dulu. Lagu yang sering aku kumandangkan bersama kawan-kawan di sekret, apalagi jika Usman yang menyanyikan lagu ini, dengan stelan kaos hitam polos dibalut kemeja kotak-kotak lengan panjang yang agak sedikit digulung serta seluruh kancingnya terbuka, ditambah lagi celana jeans sobek tepat di lutut dan sepatu boot miliknya, membuat ia layaknya anak punk sejati.

Sebelum Usman bernyanyi, ia tak lupa orasi singkat, katanya itu wajib sebelum menyanyikan lagu ini. Dengan suara lantang, orasi ditutup dengan kalimat khas miliknya, bahkan kami yang sering bersamanya sampai hapal dan ikut mengucapkannya “Indonesia adalah miliki kita yang Tuhan berikan untuk dijaga dan digunakan seperlunya saja, agar kelak anak cucu kita bisa menikmati serpihan surga ini dengan nyata, bukan hanya sebagai dongeng pengantar tidur semata!”.

“Oke terimakasih, semoga kelak anak cucu kita bisa menikmati serpihan surga ini dengan nyata dan bukan hanya sebagai dongeng pengantar tidur semata” seketika lamunanku buyar mendengar perkataan pengamen itu. Aku menoleh untuk melihatnya tapi ternyata ia telah pergi tanpa mengetuk kaca mobilku seperti pengamen biasanya.

Mataku terus mencari pengamen itu, kiri dan kanan jalan ku amati dengan seksama. Diantar sela-sela kendaraan yang memadati jalanan ini, pengamen itu berjalan menuju kendaraan-kendaraan yang berada di belakangku. Entah mimpi apa aku semalam, aku turun dari mobil dan coba menghampiri pengamen itu.

Ku tepuk pundaknya. “Tiit tiit tiit!” Bunyi klakson pengendara mulai berhamburan, aku dan pengamen itu pun saling menatap kaget. “Usman?” Kataku refleks.
“Mohon bapak jangan membuat macet lalulintas dengan memarkir mobil ditengah jalan”
“Maaf pak, sebenarnya itu bukan disengaja”
“Kalau begitu bapak kami beri teguran saja, tapi kalau besok-besok bapak lakukan lagi, bapak langsung kami bawa ke kantor”
“Oh iya pak, terimakasih yah, pak” keluar dari pos polisi aku langsung menuju mobil.

Hari yang gila, meninggalkan mobil ditengah jalan saat lampu telah hijau. Usman telah menungguku didalam mobil,  kawanku yang sejak lama tidak pernah lagi kutemui.

“Jadi bagaimana kabarmu sekarang pria kantoran?”
“Sudah kita bicaranya nanti saja, sekarang kita cari tempat ngopi dulu” kami pun berkeliling mencari tempat yang pas untuk bisa berbagi cerita, sudah lama kami tidak bertemu ditambah lagi Usman juga merupakan sosok yang menjadi panutanku ketika kuliah. Memang usianya beda setahun denganku, namun sebagai senior ia tidak memperlakukan kami seperti kacung, bahkan ia menganggap kami yang merupakan adik tingkatnya seperti kawan. Baginya senior junior itu bentuk pembagian kelas yang nyata, melihat seseorang bukan dari isi kepalanya melainkan siapa lebih dulu menginjakkan kaki di kampus adalah hal yang tidak bisa ditolerir.

Ia juga sering geleng-geleng saat melihat aktivis kampus yang sok kekirian tapi masih suka perintah adik tingkat untuk beli rokok. “Itu kanan berbulu kiri” katanya. Orang yang aneh dan terasing, saat kawan-kawan seangkatannya telah menjadi pimpinan dibeberapa lembaga kampus, ia malah menarik diri. Menurutnya cita kerakyatan tidak dapat diraih dengan jabatan, malah tekanan bertubi-tubi membuat si pemangku jabatan untuk terus kompromi demi nama baik pribadi.

Hanya aku dan beberapa kawan saja yang tahan bergaul dengannya. Buruh, petani, nelayan, kaum marjinal dan orang susah lainnya yang menjadi materi khutbahnya setiap kami kumpul. Kami pula bertahan dengannya karena sosok Usman yang menurut kami pahlawan, selain cerdas ia juga jago debat apalagi berkelahi.

“Minum dulu kopinya Man”
“Iya tapi kopi saja, tidak usah pesan makan”
“Tenang nanti aku bayar”
“Sudah jangan”
“Kita kan baru ketemu, apa salahnya sekali-kali traktir kawan sendiri”
“Kalau mau traktir jangan disini, nanti di warteg saja”
“Lah memangnya kenapa, uangku masih cukup kok”
“Bukan masalah uang, tapi kesejahteraan. Kalau kamu punya uang jangan di tempat kapitalis begini belanjanya. Kita cari warteg saja nanti”

Ku kira sekarang ia telah berubah. Nyatanya haluan kiri yang ia anut telah mendarah daging, bahkan untuk hal sepele ini saja ia selektif. Jadi teringat lagi ketika dulu ia sering dapat nilai eror, bukan karena bodoh tapi malas masuk kelas yang dosennya teoritis dan tidak mau kalah.

“Man kenapa tidak masuk? Diusir lagi yah?”
“Biasa pak Udin, kalo ngajar hanya bisa bahas masa mudanya sambil ngerokok dalam kelas. Pas ditanya tentang ekonomi kerakyatan, eh dia malah plonga-plongo, terus nantang untuk jawab. Eh pas ku jawab malah dia suruh keluar, sebagai mahasiswa yang taat yah aku keluar”
“Kamu berani juga, padahal cukup diam dalam kelas sudah bisa dapat nilai bagus”
“Hahaha santai, semester depan kita sekelas karena aku ngulang”
“Man, ingat juga orangtua susah cari biaya kuliah”
“Lah memangnya kamu lupa, kuliahku ditanggung negara”
“Oh iya, tapi ingat juga negara sampai ngutang demi biayain kuliahmu”
“Mangkanya itu, aku kuliah dengan benar. Coba menumpas para pengajar yang sebenarnya tidak lebih paham dari mahasiswa dan hanya peduli pada gaji ketimbang mencerdaskan mahasiswa. Itulah misi ku demi menolong negara yang telah membiayaiku kuliah”.

Usman memang tidak dapat ditaklukkan perihal debat dan prinsip, karena itu pula ia menjadi terasing seorang diri.

“Pakaianmu bagus juga, sudah punya mobil pula. Memangnya kamu sekarang kerja apa?”
“Oh kerja, sejak tiga tahun terakhir aku kerja di perusahaan tambang”
“Wah kamu mendukung eksploitasi para kapitalis itu yah!” Seluruh pengunjung melihat kearah kami akibat teriakan Usman.
“Tenang dulu Man, tambang golongan C itu hanya…”
“Ah, aku tau. Pasti kamu mau bilang kalau perusahaan tempatmu kerja hanya mengambil nitrat, fosfat, asbes, talk, grafit, pasir kuarsa, kaolin, feldspar, marmer, dan pasir kan”
“Perusahanku juga taat mengeluarkan CSR kok”
“Alah, sudah cukup! CSR hanya milik pejabat daerah bukan rakyat, kamu ternyata sama saja dengan mereka para kapitalis serakah, rela menjual ‘tanah air’ demi uang!”

Seisi ruangan melihat kearah kami dan aku cuma bisa diam, persis sama seperti dulu ketika ia telah berkhutbah.

“Terimakasih atas kopinya kawan dan ingat ini baik-baik. Indonesia adalah miliki kita yang Tuhan berikan untuk dijaga dan digunakan seperlunya saja, agar kelak anak cucu kita bisa menikmati serpihan surga ini dengan nyata, bukan hanya sebagai dongeng pengantar tidur semata!” Katanya seraya pergi meninggalkanku.

Koran Pagi

Seperti biasa, sudah selarut ini Bahar masih saja menulis berita. Apapun itu, asal bisa dijadikan berita akan ia tulis juga. Upah dari menulis berita memang tak seberapa. Untuk beli makan saja kurang, apalagi belanja barang yang diinginkan.

Kopi, mesin tik dan sebungkus rokok kretek menjadi perangkat paling penting jika ia ingin menulis berita. Sudah banyak lika-liku yang ia lalui sebagai seorang penulis berita. Kadang honor belum cair, tapi tuntutan menulis berita baru juga harus dikerjakan.

Sangat sulit bila dibayangkan berada dalam kondisi kurang tidur dan lapar namun tetap harus menulis berita. Kebiasaan itu sudah sering menerpa Bahar, sejak memutuskan untuk menjadi penulis berita.

Berita yang akan ia tulis malam ini rasanya begitu berat. Karena harus ia tuliskan dengan jujur, beda dengan tulisan-tulisan sebelumnya. Sedikit fakta, sisanya dibumbui kata-kata mutiara, agar tidak mencederai para pemangku tahta.

Ekonomi adalah topik yang akan ia tulis. Dari macam-macam jenis berita, Bahar memilih feature. Menurutnya berita jenis ini tetap bisa dibaca berulang kali tanpa adanya kata kadaluarsa.

Semua perangkat guna menulis malam ini telah siap. Kopi, mesin tik, rokok kretek dan ide. tinggal menunggu komando Bahar. Ide untuk beritanya kali ini pula tidak main-main, telah matang dan bulat. Apapun hasilnya nanti, ia telah siap menerima.

Terlebih lagi ketika siang tadi ia bertemu pak Syukur, bapak dua anak yang menghidupi keluarganya  dengan memulung. Siang itu Bahar berencana ingin mencari bahan untuk menulis berita tentang ekonomi masyarakat ditengah anjloknya perekonomian. Lama Bahar pikir, ide apa yang ia akan angkat dalam beritanya nanti.

Macam-macam bacaan yang ia habiskan, semuanya topik ekonomi. Bahar memilih dan memilah bagian penting yang patut ia tulis. Bacaannya belumlah cukup, maka itu ia memutuskan untuk berkeliling mengendarai motor tuanya, barangkali ada inspirasi yang ia temui di jalanan nanti.

Sengat matahari saat itu tiada pamrih, sekujur tubuhnya merasakan perih. Terbayang olehnya alasan mengapa negeri ini begitu kacau. Barangkali cuaca panas pula yang memicu karakter masyarakat menjadi keras kepala, tempramen, tergesa-gesa dan suka membabi buta.

Saat keliling pun sama, Bahar melihat banyak kejadian. Ia menyebutnya, rupa-rupa warnanya. Gambaran yang pas untuk bangsa yang banyak budaya. Pengemis, pedagang kaki lima, pemulung dan masih banyak lagi manusia yang mempertontonkan kemiskinan. Terpaksa atau kesempatan sama saja bagi Bahar, malah sekarang banyak orang berlomba-lomba kelihatan tak berdaya, biar bisa diberi sedekah.

Semua yang ia lihat sepanjang perjalanan, membuat tekatnya semakin bulat untuk menuliskan berita ekonomi. Baginya ekonomi adalah hal paling penting di kehidupan. Ekonomi bisa mengukur si kaya dan si miskin, ekonomi bisa membedakan kebutuhan dan keinginan, ekonomi dapat menjadi tolak ukur berkembangnya suatu bangsa atau tidak, ekonomi juga bisa memecah belah hubungan. Semuanya bersumber pada ekonomi; cinta, keluarga, pertemanan, bahkan kepercayaan terhadap Tuhan tergantung kondisi ekonomi seseorang.

Tetapi sebagai seorang penulis berita, Bahar tidak serta-merta langsung menuliskannya begitu saja. Ia butuh sudut pandang yang tepat, agar pembacanya tidak berkata “so what”, ia ingin pembaca berkata “what?”. Pembaca jadi tercerahkan, dapat hal baru atau setidak-tidaknya bisa mensyukuri nikmat yang dirasakan saat ini.

Masih dalam keadaan bingung, Bahar mengamati setiap detail jalanan yang ia lewati. Barangkali ada hal yang bisa ia angkat jadi topik. Hingga akhirnya matanya tertuju pada seorang bapak paruh baya yang sedang duduk tepat dibawah pohon sebuah kantor bersama gerobaknya. Dari semua gambaran kemiskinan kota, bapak berkopiah hitam itulah yang menurutnya pas untuk jadi tokoh dalam beritanya.

Batas waktu yang mendesak, membuat Bahar tanpa pikir panjang langsung menghampiri bapak paruh baya itu.

“Permisi pak” Bahar coba menyapa
“Iya, ada apa yah?” Jawab bapak itu dengan raut wajah heran.
“Tidak ada pak, saya hanya mau bicara sebentar dengan bapak. Perkenalkan saya Bahar pak, saya seorang wartawan” sambil memperlihatkan press card
“Oh, wartawan yang suka tulis berita itu ya” kata bapak itu senyum
“Iya pak, benar”
“Lah terus mau tanya apa dek? Alamat? Kalau alamat bapak tidak tahu, soalnya bapak bukan orang sini”
“Eh.. bukan pak, saya hanya mau bicara dengan bapak. Mungkin bapak bisa cerita sedikit tentang keseharian bapak, biar nantinya saya tulis dan muat di koran pak”
“Lah, emang saya ini siapa. Kok bisa-bisanya di tulis dan masuk koran, bukannya orang-orang yang ada di koran itu orang hebat, lah ini saya cuma mulung mana bisa masuk koran. Kalau saya mati karena ditabrak mungkin baru bisa masuk koran” kata bapak itu sambil sedikit tertawa.
“Tidak juga pak, koran kan dibaca biar bisa dapat informasi. Jadi siapa saja bisa masuk koran yang penting punya sumber informasi” Bahar coba menyakinkan
“Aduh janganlah dek, bapak tidak mau masuk koran”
“Yah tidak apa-apa pak, kan namanya juga berbagi informasi” rasa-rasanya Bahar masih belum menyerah.
“Mending cari orang lain saja dek. Bapak tidak mau masuk koran, takut banyak nanti banyak yang kenal”
Bahar belum juga menyerah dan memang ia termasuk orang yang pantang menyerah. Jika ia katakan A, pasti tidak berubah walau sampai mati.
“Nah, kan bagus pak kalau banyak yang kenal, bisa banyak orang yang tahu kondisinya pak”

“Kamu pikir saya ini hewan peliharaan yang makan dari pemberian orang. Saya lebih milih mulung daripada harus minta-minta, mau taro di mana harga diri saya. Dasar anak kemarin lahir, liat saya sudah tua begini, pikirnya saya butuh di kasihani” bapak paruh baya itu naik darah, ia tidak terima perkataan Bahar. Baginya usaha walau sedikit itu lebih baik ketimbang harus minta-minta.
“Bukan begitu pak, maksud saya itu..”
“Ah! Sudah pokoknya saya tidak mau dimasukan dalam koran, kamu ini punya telinga tidak! Kalau saya bilang tidak ya tidak” Belum selesai Bahar menjelaskan, bapak itu langsung memotong pembicaraan. Wajahnya mulai memerah, matanya melotot dan nada suaranya keras.

Rupanya kali ini Bahar dapat lawan yang cukup sepadan. Bahar yang pantang menyerah berhadapan dengan bapak paruh baya yang punya prinsip teguh.
“Sudah kamu pergi saja sana, jangan ganggu istirahat saya” ucap bapak itu lagi.
“Maaf pak, saya hanya mau cari bahan tulisan pak. Kalau saya tidak nulis, nanti saya tidak bisa beli makan pak. Cuma dari nulis berita saya bisa dapat uang” kali ini Bahar coba menjelaskan pada bapak itu, tapi bapak itu seperti tidak menghiraukannya. Bahar terus saja memohon agar bapak itu mau diwawancarai. Segala alasan, tetek bengek, sampai persoalan agama juga ia bawa-bawa. Sungguh kemahiran seorang penulis berita tergambar jelas di perilaku Bahar.

Terus saja ia bujuk bapak itu tapi tidak juga membuahkan hasil. Bahar masih terus berusaha biar bapak itu mau ia wawancara, baginya semangat pantang menyerah ialah sumber kemenangan. Ia tak mau menyerah, tak mau pula balik arah. menyerah dan balik arah hanya untuk pecundang dan ia bukanlah pecundang.

Bahar sudah kehabisan akal hingga ia hanya memohon “Ayolah pak, tolong bantu saya”
“Memangnya kamu butuh apa dari saya, nak?” Jawab bapak itu
Bahar sontak kaget, ia lihat wajah bapak itu sudah tidak marah padanya. Akhirnya Bahar keluarkan buku catatan serta bolpoin, ia menjelaskan panjang lebar tentang garis besar berita yang akan ia tuliskan.

Lama Bahar dan bapak itu bercerita, sambil sesekali ia mengisap rokok kretek miliknya. Perasaan senang dan lega yang dirasakan Bahar tiada duanya, untuk kesekian kalinya ia berhasil mewawancarai orang yang menurutnya begitu susah diajak kompromi. Menang, menang dan menang. Itulah yang terngiang-ngiang di kepalanya saat ini, salah satu tahap menulis berita sudah ia lakukan, selanjutnya tinggal membawa data yang ia dapatkan dari bapak paruh baya ini ke meja ketik.

“Oke pak, kalau gitu terimakasih banyak pak” Bahar menjabat tangan bapak itu.
“Iya nak, sama-sama. Bapak juga mau minta maaf soalnya sempat marah-marah” jawab bapak itu
Bahar menuju motor dan berencana akan pulang biar bisa langsung menuliskan beritanya. Belum juga motornya ia nyalakan tiba-tiba bapak itu berkata “kamu ini lucu sekali nak”
“Lah lucu kenapa pak?” Tanya Bahar heran
“Kamu ini kan wartawan yang ekonominya lemah, kok harus capek-capek cari orang lain untuk bahan berita. Kamu juga tadi bilang kalau cari bahan untuk berita itu yang menarik kan, kalau kamu tulis berita tentang kondisi ekonomi pemulung seperti saya ini tidak ada menariknya. Pemulung itu ada banyak dan sudah pasti susah, anak kecil juga pasti tau kalo pemulung itu orang susah”
“Oh iya ya pak” jawab Bahar sambil coba membayangkan.
“Kalo gitu saya lanjut dulu nak”
“Iya pak”

Kondisi ekonomi seorang penulis berita di situasi anjloknya perekonomian, tema yang Bahar pikiran saat ini. Masih banyak juga orang yang belum tahu kalau penulis itu banyak susahnya tapi diminta untuk kreatif, mulai dari cari data hingga menulis. Perkataan bapak tadi terus terbayang, kali ini Bahar dilema. Kali ini ia pusing, bukan karena tak ada ide, hanya saja ia harus memilih diantara dua ide yang menurutnya bagus untuk dituliskan.

Bahar kebingungan, kopi dan rokok telah ia siapkan. Sore hari depan teras rumahnya ia coba menimbang-nimbang. Entah sudah berapa batang rokok ia habiskan, hari telah menjelang malam dan Bahar belum menentukan apapun.

Tengah malam nanti berita sudah harus ada, agar siap cetak dan dijual saat pagi. Tanpa berita berarti honor pun tak ada bahkan sialnya lagi, ia bisa dipecat dari pekerjaannya.

Rokok dan kopi yang berada tepat disebelahnya belum juga ia sentuh, tidak biasanya Bahar seserius ini. Hentakan demi hentakan mesin tik miliknya begitu keras hingga memecah keheningan malam, umpama suara lantang jerit manusia yang tengah kelaparan.

Ia dan waktu saling mengadu, siapa yang paling cepat diantara mereka. Kebiasaan serta pengalaman Bahar malam ini sedang diuji, untuk beritanya kali ini ia tak ingin merangkai kalimat yang membuat para pembacanya iba. Ia malah ingin sampaikan sebuah keberanian, tekat, pantang menyerah dan rasa sabar.

Sampai pada akhir kalimat, ia menghembuskan nafas dalam-dalam pertanda semua beban telah ia lepaskan. Apapun yang terjadi nanti, Bahar tidak peduli. Berita telah siapa cetak menurutnya. Tanpa mandi dan gosok gigi, hanya mengganti sarung yang ia kenakan dengan celana kain panjang ia pergi menuju kantor berita.

Pagi ini situasinya sama seperti kemarin. Pengamen, pedagang kaki lima, pemulung bertebaran di sepanjang jalan yang ia lewati. hanya saja Bahar tidak begitu peduli. Dalam hatinya, tugas telah selesai dan hari ini bisa membeli makan.

Penuh semangat Bahar memasuk kantor ingin bertemu redaktur dan memperlihatkan beritanya. Tiada sanjungan, tiada senyuman yang menyambutnya. Hanya penolakan keras yang menampar wajahnya. Ekonomi sulit, penguasa putar otak, banyak pengusaha gulung tikar. Bahar datang membawa berita kesulitan ekonomi seorang penulis berita. Ide gila kala negeri menjerit parah.

Nilai Sebuah Uang

Iya, ini malam yang tidak pernah bisa ku lupakan sampai kapanpun. Gerimis yang belum juga reda sejak sore dan waktu menunjukkan hampir tengah malam. Aku bersama motor bebek warna hitam milikku mengelilingi kota. Tanpa helm apalagi jas hujan, hanya kaos oblong dan celana jeans panjang.

Ku hampiri setiap minimarket yang ada, hanya untuk mencari cairan pembersih lantai. Dari satu minimarket ke mini market yang lain. Setiap memasuki minimarket, aku langsung menuju rak sabun cair dan pembersihan lantai. Lama ku amati, mataku liar mencari sasaran yang tepat sambil terus mengulang-ulang “bungkus hijau tua” di kepala.

Barang yang kucari belum juga ketemu, bersamaan dengan itu uang mulai berkurang. uangku keluar percuma hanya untuk membayar parkir.

Aku benar-benar tidak bisa mengerti. Tidak benar-benar mengetahui. Tidak habis pikir. Duduk seharian didepan sebuah minimarket dan bisa pulang membawa uang. Bagiku ini pekerjaan yang paling mudah dilakukan selain minta-minta di jalanan. Kalau disebut sebagai penjaga motor tidak juga, malah ada tukang parkir yang hanya asik mengotak-atik hpnya. Di banyak kejadian pula, tukang parkir tidak merasa bertanggungjawab atas kehilangan helm bahkan sepeda motor yang parkir di tempatnya.

Rasa-rasanya kini, mengeluarkan uang parkir bukan lagi karena motor terparkir dengan aman, melainkan membayar tempat parkir yang digunakan.

Sudah lima minimarket ku datangi, itu berarti aku telah mengeluarkan sepuluh ribu rupiah untuk membayar parkir dan hasilnya sama. Barang yang kucari belum juga ketemu. Pembersih lantai berwarna hijau tua.

Malam kian larut, gerimis makin awet dan aku belum menemukan barang yang kucari. Masih ada satu minimarket yang belum ku datangi di kota ini, berharap pembersih lantai warna hijau tua itu ada di sana. Kataku dalam hati sambil mengendarai motor menuju ke sana.

Dengan perlahan aku memasuki pelataran minimarket itu. Ah sial, kulihat lagi ada tukang parkir yang sedang berteduh tepat disudut halaman parkiran. Standar motor telah ku turunkan, kontak ku matikan namun aku belum beranjak dari motor. Sekali lagi ku pandangi tukang parkir itu, kalau dilihat dari usianya dia sudah sangat tua dibanding tukang parkir yang kutemui sebelum-sebelumnya, lengkap dengan topi dan rompi oranye khas tukang parkir. Disaat yang sama pula, ku rogoh saku celana untuk memastikan apakah sisa uangku cukup untuk membeli dan membayar parkir. Setelah ku hitung-hitung, ternyata cukup bahkan untuk membayar sepuluh tukang parkir lagi. Akhirnya aku turun dan bergegas masuk.

“Mas pembersih lantai warna hijau tua ada?” Tanyaku pada pramuniaga.
“Oh iya tunggu mas” pramuniaga itu bergegas menuju rak tempat macam-macam pembersih lantai berada. Lama ia mencari, bahkan ku perhatikan ia sempat memeriksanya ke gudang barang yang berada di belakang.
“Maaf mas barangnya lagi kosong” kata pramuniaga itu dengan terengah-engah
“Oh iya kalau gitu mas” jawabku
“Kalau yang merek ini mau mas? Sebenarnya ini sama saja dengan yang mas cari, tidak ada bedanya” katanya menawarkan
“Harganya sama mas?” Tanyaku
“Beda mas, ini agak sedikit mahal”
“Wanginya sama mas?”
“Beda juga mas”
“Nah sekarang mas sudah tahukan bedanya barang ini sama barang yang ku cari” ujarku sinis.

Minimarket ini menggenapkan pencarian sekaligus menjadi tujuan terakhirku. Hasilnya tetap sama, pembersih lantai warna hijau tua yang kucari tidak ada dan untuk terakhir kalinya pada malam ini, aku mengeluarkan uang parkir lagi.

Ku rogoh saku celana dan mengeluarkan uang dua ribu rupiah. Tapi kok kenapa tukang parkir ini tidak menghampiriku untuk memintai uang? batinku. Kini kesalku bertambah, telah berkeliling ke sana kemari dan bayar parkir terus-terusan tapi tidak mendapatkan barang yang kucari. Sekarang malah menghadapi tukang parkir yang begitu malas bahkan untuk mengambil upahnya sendiri.

Awalnya aku berpikir langsung pergi saja tanpa membayar parkir namun aku malu juga kalau nanti tukang parkir itu meneriakiku karena belum bayar parkir, mau taruh dimana muka ini nanti, hanya karena uang dua ribu aku harus menanggung malu. Ku hampiri tukang parkir itu.
“Pak ini uang parkirnya”
“Kamu tidak belanja dek?” Tanya tukang parkir
“Tidak pak, barang yang kucari kosong” jawabku
“Oh, kalau begitu tidak usah bayar”
Sontak membuatku kaget, baru kali ini kutemui tukang parkir seperti ini, kataku dalam hati.
“Tidak pak, ambil saja” ucapku lagi sambil menyodorkan uang
“Sudah tidak usah dek”
“Biarlah pak tidak apa-apa” kataku dengan sedikit memaksa
“Kalau begitu terimakasih yaa dek” kata bapak itu ketika mengambil uang dari tanganku dengan ragu.

Aku pun meninggalkan minimarket terakhir itu. Sepanjang perjalanan aku memikirkan kejadian tadi, kenapa ketika membayar parkir di tempat lain aku merasa keberatan tapi saat membayar pada bapak tadi sepertinya kurang? Padahal nominal uang yang kuberikan sama, sama-sama dua ribu. Atau jangan-jangan nilai sebuah uang tidak dilihat dari seberapa banyak jumlah nol-nya, melainkan pada siapa uang itu diberikan. Entahlah, aku juga tidak ingin menduga-duga, mengira-ngira atau mengada-ada.

Catatan Kaki

Perjalanan yang ku tempuh menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam perjalanan menggunakan bus. Sebagai seorang relawan pendidikan sekaligus mahasiswa memiliki tantangan tersendiri bagiku, di satu sisi harus membagi waktu antara kuliah dan program mengajar di pelosok desa. Namun demi niat baik dan pemerataan pendidikan, semua itu tidak dapat menyurutkan semangatku.

Begitu senang rasanya bisa bergabung dalam komunitas mengajar ini, apalagi aku bisa berbagi pengetahuan pada anak-anak di pelosok desa yang sulit mengeyam pendidikan dan kurang beruntung. Banyak sekali hal yang ingin ku bagi bersama mereka nanti.

Sungguh ini adalah hal yang berguna bagi mahasiswa sepertiku, disaat yang lain hanya mementingkan pendidikannya sendiri tanpa peduli pendidikan anak-anak yang berada di desa, tapi kami malah memilih tanggungan lebih, dengan turun langsung berbagi apa yang kami ketahui pada orang-orang desa khususnya anak-anak, komunitas kami punya misi besar agar anak-anak mendapatkan pendidikan yang layak bahkan kalau perlu anak-anak desa juga berhak meraih pendidikan yang layak.

Bagiku semua anak itu sama, hanya saja kesempatan yang tidak merata hingga masih banyak anak-anak yang tidak mendapatkan pendidikan, khususnya di pelosok desa, maka dari itu komunitas kami memiliki misi untuk mengajar hingga pelosok desa agar anak-anak desa bisa belajar dan termotivasi untuk terus belajar bahkan hingga ke perguruan tinggi.

Sepanjang jalan kami disuguhkan pemandangan alam yang masih asri, tanpa polusi apalagi gedung tinggi. Rasanya seperti kembali ke masa Indonesia sebelum reformasi.

Tiba-tiba bus berhenti, sontak merusak lamunanku.
“Kenapa busnya berhenti bang” refleks aku bertanya
“Desa tempat tim 2 sudah sampai” jawab ketua program
Aku segera mengambil ransel dan beberapa perlengkapan mengajar. Aku bersama empat kawanku yang bertanggungjawab di desa ini bergegas turun dari bus. Sebelum kami melakukan program mengajar, kami diminta untuk menghadap ke kepala desa untuk berpamitan karena akan menjalankan program mengajar selama seminggu.

Sejuk udara pagi, balas-membalas Kokok ayam dan jejeran para petani yang berjalan menuju sawah menjadi pembuka hari. Dengan semangat membara, aku beserta empat orang kawan segera bersiap-siap menuju bekas surau yang sudah tua namun tetap digunakan dan dialih fungsikan menjadi ruang pertemuan, dan kali ini kami telah mendapatkan izin untuk menggunakannya sebagai tempat mengajar.

Anak-anak mulai berdatangan untuk mengikuti kelas, meski mereka tidak menggunakan pakaian seragam namun kelihatannya mereka begitu bersemangat mengikuti pelajaran dan permainan yang kami siapkan.

Di mulai dari pelajaran PPKn. Kami bergantian menyampaikan tentang Indonesia, dari menyayikan lagu wajib hingga beberapa budaya yang ada. Tapi yang membuat kami kewalahan, ketika anak-anak ini melontarkan pertanyaan yang begitu polos. Seperti Malik salah seorang anak nelayan di desa ini, ia bertanya apakah di kota orang juga bertani dan melaut?
Aku pun menjelaskan padanya bahwa di kota hampir jarang lagi ditemui orang yang bekerja sebagai petani atau nelayan, karena di kota orang-orang bekerja didalam ruangan yang biasa disebut kantor. Husen yang sama polosnya tiba-tiba juga bertanya pada kami, apa pentingnya sekolah? Sekali lagi pertanyaan itu membuat perut kami tergelitik sekaligus mengiris hati, pertanyaan itu seolah kritik pada pemerintahan di ibu pertiwi yang tidak teliti menjaga dan merawat anak negeri ini.

Begitu polosnya mereka hingga melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin terkesan aneh namun begitu nyata, apalagi kondisi desa ini sungguh terpelosok. Belum lagi anak-anak di desa ini tidak pernah tahu apa itu sekolah dan apa gunanya, sebab sedari mereka bisa berjalan, mereka sudah harus bekerja membatu keluarga. Seperti Malik, saat perahu ayahnya telah sandar di bibir pantai, ia bersama ibunya telah bersiap-siap untuk membawa hasil tangkapan untuk dibawa ke pasar dan sebagian lagi dimasak. Atau Husen yang biasa menemani ayahnya membajak sawah dan memandikan kerbau setelahnya.

Hari demi hari kami lalui di desa ini, aku seperti tidak ingin pergi dan mau menetap di sini. Mau makan mudah, tinggal jalan ke kebun atau ke pantai pasti sudah bisa makan. Uang yang kami bawa pun menjadi kurang berguna, sebab disini makanan sangat melimpah.

Hari menjelang sore, aku dan berempat kawan sedang duduk-duduk di teras surau tanpa kursi atau meja, kami hanya lesehan untuk menghilangkan lelah karena mengajar. Ditemani kopi dan beberapa kue yang tadi siang kami beli di pasar. Dingin perlahan mulai masuk menerobos pakaian kami. Dan dari kejauhan beberapa warga berjalan menghampiri kami, mereka tergesa-gesa dan mimik wajahnya yang masam.

“Assalamu’alaikum, hey kalian orang kota. Jangan coba-coba ajari anak kami lagi!” Ucap salah seorang dari mereka dengan kesal.
Sontak perkataan itu membuat kami kaget dan terheran-heran dengan maksud bapak ini.
“Iya, ada apa yah pak? Memangnya kami salah apa yah pak?” Kawanku Anto mewakili kami dan bertanya balik.
“Alah… Pokoknya kalian jangan lagi mengajar, besok kalian pulang saja ke kota”
“Iya betul itu, kami sudah coba baik ke kalian orang-orang kota, tapi kalian mengajarkan anak kami yang tidak-tidak” sambung salah seorang dari mereka lagi.

Suasana semakin keruh, ketidaktahuan kami dan emosi para warga menjadikan sore menjelang malam itu kalut. Warga sekitar terus berdatangan, melihat kejadian ini, hingga akhirnya pak kades datang dan menyela pembicaraan
“Memang ini ada apa, kok kumpul-kumpul magrib begini?”
“Mereka pak, anak muda dari kota ini penyebabnya. Mereka sudah mencuci otak anak-anak kami hingga mulai malas kalau disuruh bantu-bantu. Apalagi Malik, Katanya mau sekolah saja, mau belajar dan mau ke kota cari kerja” kata bapak Malik yang sejak tadi memang berang pada kami.
Dengan tatapan tajam, “apakah itu benar dek?” Pak kades balik bertanya pada kami.
Kawan-kawanku terlihat sangat gugup, sepertinya mereka hanya akan diam. Batinku.
“Kami tidak mencuci otak anak-anak pak, kami hanya mengajarkan mereka seperti sekolah pada umumnya. Dan sedikit memberi penjelasan tentang apa itu kota sambil sedikit memotivasi mereka untuk tetap belajar walau dalam keterbatasan” ujar ku coba menjelaskan.
Mendadak bapak Malik mendekat padaku, wajahnya memerah dan mengacungkan jari telunjuknya ke arahku “Dasar kalian orang kota yang tidak tahu berterimakasih. Kalian buat anak-anak kami berfikir bahwa di desa tidak ada harapan untuk masa depan mereka, kalian buat anak kami menghayal tentang kemegahan gedung tinggi kota. Apakah orang kota selalu berfikir begitu pada kami orang desa, setelah apa yang telah kami berikan untuk kota. Sekali lagi kalian orang kota harus ingat kalau nasi, ikan, sayur dan buah itu dari desa. Tanpa kami, kalian tidak bisa apa-apa”

Seketika aku bersama empat kawanku tertunduk bungkam.

Minah Bukan Janda

Masih dengan penuh rasa khawatir orang tua itu berdiri tepat di sudut jalan, entah apa yang ia pikirkan. Namun nampak jelas ia tidak sedang baik-baik saja, kira-kira sudah ada sekitar setengah jam ia berdiri disitu, tanpa naungan atau dudukan.

Lalu-lalang kendaraan disekitarnya seperti tidak menganggap keberadaannya dan anehnya lagi mengapa cuma aku yang begitu antusias memperhatikan sikapnya sejak tadi, hingga kopi yang ku sediakan untuk menikmati sore hari di beranda rumah telah menggigil.

Sesekali ku lihat ia mengangkat tangan kiri untuk mengecek waktu di arloji miliknya, rasa penasaranku yang memuncak ini tidak tertahankan lagi, maka dari itu ku beranikan diri untuk keluar dan menyapanya.

“Permisi pak, bapak disini sedang apa atau mau cari siapa pak?” Sontak orang tua itu terkejut akan kedatanganku yang tiba-tiba menegurnya, tapi ia tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya tersenyum sambil menunjuk rumah yang berada di seberang jalan tepat dihadapan kami. Rumah itu kelihatan sudah reyot, dindingnya juga telah lapuk dimakan usia.

Tetapi seperti ada yang mengganjal, kok ia menunjuk rumah yang ku ketahui benar kalau penghuninya adalah seorang janda dua anak yang begitu tidak suka bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, semenjak ibu dirumah itu cekcok dengan tetangganya hanya karena disebut janda, walau memang status janda ibu yang berada dirumah itu juga masih simpang-siur.

Oh astaga, jangan-jangan bapak ini adalah selingkuhan ibu dirumah itu, pikirku liar. Sekali lagi ku coba memastikan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Kenapa dengan rumah janda itu pak?” Tanyaku memancing.
“Minah itu bukan janda!” Jawabannya dengan sinis dan tatapan tajam ke arahku.
“Terus kalau bukan janda, suaminya mana? Orang-orang sini juga mempertanyakan itu padanya, tapi ia hanya marah-marah tidak jelas lalu hanya kembali ke rumah dan menutup pintunya rapat-rapat”
“Minah itu punya suami dan aku kenal baik orangnya, suami Minah itu seorang pelaut ulung dan sangat sayang sama Minah dan anak-anaknya. Hanya saja suaminya sudah lama tidak pulang dari melaut, kira-kira sudah sepuluh tahun lamanya”

Kembali lagi aku terdiam dan coba mencermati perkataan bapak ini. Sudah sepuluh tahun belum pulang, kalau begitu ceritanya, bisa jadi suami ibu itu telah mati atau mungkin saja menikah lagi dan menjalani hidup baru bersama istri barunya di perantauan. Pikiranku mulai bertambah liar, namun kali ini tidak ku utarakan pada bapak yang berada tepat di sebelahku ini, takut terjadi pertengkaran diantara kita hanya karena ingin memuaskan rasa penasaranku.

“Terus bapak sedang apa berdiri di sini sejak tadi?” Ku coba bertanya lagi apa maksud kedatangannya.
“Aku hanya ingin melihat keadaan Minah dan anak-anaknya” sambil tersenyum. Perlahan bapak itu melepaskan arloji miliknya dan berkata “aku ingin minta tolong padamu, tolong berikan arloji tua ini pada Minah” ucap bapak itu sembari memberikan arloji miliknya padaku.

Aku masih keheranan, kenapa bapak ini memintaku untuk mengantarkan arloji ini ke rumah itu.
“Lah kan bapak bisa kasi sendiri, kenapa harus saya pak” ku coba menolak permintaannya.
“Aku tidak punya waktu lagi, setelah ini aku harus buru-buru berangkat. Jadi tolonglah berikan arloji ini pada Minah” katanya dengan nada memohon

Akhirnya kuambil arlojinya, dan ia pun tersenyum padaku. Kumandang azan pertanda waktu magrib telah menggema di langit, seketika aku tersadar kalau pembicaraanku dengan bapak ini sudah hampir satu jam dan aku teringat pada kopiku yang ku tinggalkan di beranda rumah hanya karena rasa penasaranku.

Belum selesai terpikir kopi milikku yang telah dingin, aku telah menerima amanah untuk memberikan arloji ini. Ku pandang bapak di sebelahku, ia pun menoleh ke arahku dengan sedikit senyum dan isyarat agar aku segera mengantarkan arloji ini.

“Assalamu’alaikum, permisi” rumah ini seperti tidak berpenghuni, dan memang sudah tidak layak ditinggali.
“Assalamu’alaikum, bu. Permisi bu”
Lama aku menunggu, sial kalau ini bukanlah amanah, mana aku mau begini. Dari dalam rumah terdengar seperti suara langkah kaki, kecil dan tidak begitu keras, sepertinya ini adalah suara langkah kaki anak-anak, pikirku.

Suara langkah itu semakin mendekati pintu, dan sedikit bunyi decitan engsel pintu yang telah berkarat membuat seluruh tubuhku ngilu. Dan benar saja, pintu ini terbuka, dari dalam nampak seorang anak perempuan yang masih kecil, kira-kira masih seumur anak kelas 4 SD, tingginya pun hanya Sepinggangku. Dengan pakaian yang sudah sangat lusuh dan mata polos anak itu berkata “cari siapa om?”
“Aku mencari ibumu” belum juga ku lanjutkan perkataanku, seorang perempuan remaja dengan stelan yang serupa dengan anak kecil ini, menghampiri kami.
“Ibu ada didalam om, ibu belum punya uang untuk bayar utang dan sekarang ibu lagi sakit om”
“Eh aku bukan mau tagih utang, aku cuma mau kasi ini ke ibu kalian” kataku seraya memperlihatkan arloji yang ku pegang.

Dua anak itu sontak keheranan dan saling menatap, keduanya kelihatan bingung. “Sebaiknya berikan arloji ini pada ibu kalian” ucapku, anak perempuan yang lebih tua itu mengambil arlojinya dan masuk kedalam, sedang aku masih berdiri berhadapan dengan anak yang satu lagi.

“Dimana kau dapatkan ini?”
“Ada orang yang memberikannya Bu” suara percakapan dari dalam rumah terdengar olehku, sepertinya ibu Minah terkejut melihat arloji itu, pikirku.

Dari luar kulihat sosok ibu Minah yang sudah agak tua itu berjalan sedikit membungkuk menuju ke arahku bersama dengan anaknya yang tadi membawa masuk arloji itu.
Dengan tatapan sayu dan begitu dalam, ia memandangku. Perasaanku seketika menjadi teduh, ingin membungkuk saat melihat ibu Minah, apalagi ketika ia tersenyum padaku, sungguh ibu Minah tidak seperti sosok yang sering dibicarakan warga kompleks sebagai seorang janda yang pemarah.

“Dimana kau dapatkan arloji ini nak?” Tanya ibu Minah dengan suara yang sangat lembut hingga perasaanku gemetar seperti seorang budak yang berbicara dengan sang raja.
“Itu.. ta..di. diberikan sama bapak-bapak yang ada diseberang jalan sana bu” jawabku seraya menunjuk ke seberang jalan tepat di depan rumah ibu Minah. Tetapi tiba-tiba sosok bapak tua itu telah menghilangkan, kemana perginya bapak itu? Tanyaku dalam hati. Ku perhatikan ke sekitar siapa tau ia belum jauh berjalan.

“Tidak perlu kau cari nak, ia memang selalu begitu” ibu Minah mencoba menenangkan ku yang gelisah mencari bapak tua itu.
“Memang dia siapanya ibu?” Aku bertanya untuk menghilangkan penasaran.
“Namanya Darto, suamiku. Ini arloji miliknya, mungkin Darto mau mengingatkanku kalau waktunya sudah dekat”
“Bu, sudah bu jangan bicara begitu” tiba-tiba anak tertua Bu Minah menyela pembicaraan Bu Minah dan meminta adiknya untuk membawa masuk Bu Minah.
“Memang kenapa dek?” Ku coba bertanya
“Maaf yah om, ibu memang selalu menghayal kalau bapak kami masih hidup dan ibu juga bilang, kalau nanti bapak akan datang menjemput kami, padahal bapak sudah lama meninggal karena kapalnya karam ditengah laut, bahkan jasadnya saja tidak pernah ditemukan sampai sekarang” anak tertua Bu Minah coba menjelaskan.
“Oh gitu yah. Kalau begitu saya balik dulu. Soalnya udah magrib”
“Iya om”

Kemana yah bapak tadi, kok tiba-tiba pergi, dia itu siapa, atau jangan-jangan arwah suaminya Bu Minah. Pertanyaan demi pertanyaan menghujam kepalaku, namun hal yang lebih dari itu semua adalah kopi. Kopi dan ketenangan sore hari yang akan ku nikmati pupus dan berubah penasaran dengan keluarga Bu Minah seorang janda yang tinggal di seberang jalan itu.

“Tolong…..tolong…!”
“Api…. Cepat itu apinya siram”
Masih dalam keadaan setengah sadar, kudengar teriakan orang-orang di luar rumah. Ku kenakan kaosku dan bergegas keluar, semua warga kompleks berhamburan dijalan sibuk membawa ember air, mencoba untuk menyiram api yang membakar rumah dan ku amati dengan cermat, oh tidak itu rumah Bu Minah.

“Pak mana Bu Minah dan anak-anaknya?” Ku tanya ke salah satu warga.
“Saya juga belum tahu”
Nyala api itu semakin besar dan menyebar ke sekeliling rumah Bu Minah.
Warga-warga bergantian mencoba memadamkan api dengan alat seadanya tapi tetap saja tidak cukup, ditambah lagi rumah Bu Minah yang memang berbahan kayu membuat kobaran apinya makin menjadi.

Semua warga sibuk memadamkan api, sedang aku terdiam dan kembali memikirkan kejadian sore tadi, apakah ini yang dikatakan anak Bu Minah tadi? Pikirku.

Di Restoran

Kami belum beranjak dari posisi sebelumnya, masih duduk berhadapan dengan meja yang menjadi penengah. Lama kami terdiam seolah ragu untuk memulai pembicaraan, sesekali tanpa sengaja kami saling menatap namun setelahnya kami saling mengalihkan pandang. Ah sial aku lelaki, seharusnya aku yang memulai pembicaraan, pikirku.

                Perlahan keringatku mulai berkucuran, detak jantung semakin kencang, waktu terasa begitu lama. Kenapa ini? Aku membatin, seperti tidak biasanya, masa untuk memulai bicara saja aku ragu, memangnya dia siapaku hingga aku harus ragu, toh ibuku saja ku ajak berdebat. Aku masih belum memulai tapi pertanyaan dan pernyataan bergantian menghujam kepalaku.

                Bingung bercampur ragu silih berganti, hatiku berkata ya tapi tidak dengan otakku. Gejolak akal dan hati sedang berlangsung malam ini, keputusan belum mencapai mufakat dan wanita di hadapanku sepertinya mengerti. Dengan sabar ia menungguku memulai pembicaraan, seperti wanita pada umumnya yang selalu memilih posisi menunggu ketimbang memulai.

“Eee…eee seharian ini ngapain aja?” tanyaku memulai pembicaraan

“Sebenarnya tadi udah mau pulang, tapi karena kamu ngajak makan, terus katanya tadi mau bilang sesuatu jadi aku ngikut aja” jawabnya sambil tersenyum.

“Oh begitu” jawabku, sembari berfikir bahan untuk melanjutkan pembicaraan. “terus bagaimana kabar orangtuamu?” senyumnya tiba-tiba berubah menjadi datar dan menatapku sambil mengeryitkan dahi.

                Aduh kok tiba-tiba ia memasang raut wajah tidak senang? Memangnya apa yang salah dari pertanyaanku. Seketika perasaanku yang awalnya hanya ragu, kini bertambah menjadi takut, takut apabila aku salah bicara.

                Ia masih menatapku seperti memberi isyarat bahwa saat ini ia benar-benar merasa kesal, “memangnya udah kehabisan bahan ya, sampai harus tanya keadaan orangtuaku, padahal kamu udah tahu kalau mereka telah meninggal dua tahun yang lalu”. Ah kan goblokku datang lagi, bisa-bisanya aku lupa kalau orangtuanya sudah meninggal, saking fokusnya tidak ingin salah ucap malah jadi fatal, sial. “Maaf Re, a..a..aku tidak bermaksud ta..tapi begini Re” kataku terbata-bata. “Kamu ini sebenarnya mau bilang apasih?” tanyanya kesal.

                Pertanyaan dan raut wajahnya semakin membuatku tertekan, sepertinya ini belum waktunya ku ungkapkan perasaan ini. Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi aku memiliki kesempatan seperti ini, lagi-lagi perasaanku dilema, ditambah lagi ia telah kesal karena aku salah bicara. Ah sial! Kalau tidak ku ungkapkan sekarang, apa lagi kata yang baik untuk mengalihkan pembicaraan ini, setidaknya kesal yang saat ini memuncak bisa mereda. Lagi dan lagi otakku dipaksa bekerja lebih keras demi dia, sosok perempuan yang selama ini ku dambakan.

                Ku lihat meja-meja di sekitar kami, semua orang sedang asik dengan pasangan mereka; ada yang tertawa, saling pegangan tangan, hingga ada yang saling suap. Sungguh sangat berbeda dengan mejaku saat ini. Bagaimana bisa dengan mudahnya mereka melakukan pembicaraan yang begitu hangat, sedangkan aku harus memilah-milah kata yang ku ucapkan terlebih dulu. Waktu terus berlalu, dengan cepat dan tanpa jeda. Tak peduli aku siap atau tidak, detik demi detik arlojiku terdengar sangking dinginnya meja kami. Ia masih menunggu walau tadi sempat kesal, sungguh beginikah sifat seorang wanita, sabar walau telah dibuat kesal. Pikirku.

                Tiba-tiba suara gemuruh memecah keheningan meja kami, langit yang awalnya cerah menjadi kelabu, awan mendung seolah membawa ricik dan siut dingin gambaran suasana di meja kami saat ini. Perlahan hujan turun, dan aku masih belum mengungkapkan perasaanku.

“Sepertinya malam ini akan panjang Don” katanya sembari mengancing mantel yang sedari tadi ia kenakan.

“Iya Re, sepertinya begitu” jawabku kaku.

                Embun turun menyapa kaca jendela dan dingin mulai terasa, seolah memberi gambaran kalau nanti kondisi hatiku akan seperti cuaca dan jendela restoran ini ketika menerima penolakan. Pertimbangan demi pertimbangan dalam kepalaku mulai saling menggugurkan satu sama lain demi mencari jawaban. Hingga pada satu kesimpulan, bahwa aku begitu bodoh karena membuang-buang waktu bersamanya di sini dan belum mengatakan inti dari pertemuan malam ini, aku malah mencoba menalar cinta sedang cinta tidak butuh penalaran melainkan penghayatan.

Ku tahu waktu takkan pernah kembali dan momen ini barangkali hanya sekali, dengan penuh keraguan kembali lagi kucoba mencari cela agar bisa leluasa berbicara. Ku mulai dengan tarikan nafas panjang dan ku hembuskan dengan perlahan agar gugupku segera mereda dan saat ini rasanya aku telah berketetapan hati kalau cinta patut disampaikan apabila tidak, sudah pasti akan galau berkepanjangan.

“jadi gini Re, sebenarnya aa..aa..aku sudah lama suka sama kamu” seketika jantungku mulai berdebar dengan sangat cepat, posisi dudukku menjadi tegap dan wajahku menjadi pucat. Belum juga terjawab,  rasa takut dan malu telah mengawasi dengan cermat.

“Apa Don? Kamu serius?” katanya memastikan.

“Lah….. ma…. mama, ini tvnya kok mati. Lampunya juga nih”

“memangnya kamu lupa yah kalau ini giliran kompleks kita lagi yang lampunya mati”

“yah kalau gini terus mana bisa seru nonton filmnya ma”

“mana mama tahu, ini yang buat peraturan giliran mati lampu kan pemerintah” ‘katanya tanah surga, katanya sumber daya melimpah, tapi urus lampu saja tidak bisa” ujar Ira seraya pergi meninggalkan ruang tengah dengan penuh rasa kesal karena penasaran pada ending kisah cinta Doni dan Rere yang barusan ia tonton.

OlikaKI

Setelah ditetapkannya Kadri sebagai calon nomor urut 01 dan Harun sebagai calon nomor urut 02 pilkada di Endosial, mulai banyak poster atau Baliho dari masing-masing calon terpampang di jalanan kota Endosial. Tidak peduli itu tiang listrik, dinding rumah atau pohon. Tujuan utamanya agar setiap masyarakat bisa melihatnya, mungkin bila semut memiliki hak suara pasti poster calon sudah ada terpampang di depan lubang semut.

            Pertarungan politik di Endosial saat ini memang cukup memanas apalagi melihat calonnya hanya dua, nampak jelas persaingan di antara kedua kubu. Warna merah partai pendukung kadri dan warna hijau partai pendukung Harun menjadi hiasan di seluruh penjuru Endosial. Setiap tempat menjadi sarana diskusi maupun perdebatan antar kedua pendukung, tak jarang pula perdebatan berakhir dengan kekacauan dikarenakan tidak ada yang mau kalah berdebat, seolah kalah dalam berdebat merupakan kematian.

            Hampir seluruh warga menjadi fanatik pada salah satu calon, bahkan lingkungan keluarga menjadi arena kampanye maupun debat antara anak dan orangtua atau istri dan suami. Perbedaan pilihan politik seperti garis pemisah yang terkadang berujung perang saudara.

            Harapan-harapan dari para calon telah menjadi agama baru bagi warga Endosial, isu demi isu di sebar sana sini, berharap dapat menarik simpatik maupun menjatuhkan calon lawan. Di satu sisi Rudi, Anto dan Lukman mengatur rencana untuk menemui para calon dan melakukan kesepakatan.

“Anto, kamu besok jangan lupa datang ke pertemuan pemenangan Kadri ya. Dan kamu Lukman datang ke pertemuan pemenangan yang diadakan timses Harun. Kalian berdua sampaikan tawaran kita pada mereka dan yakinkan sebisa kalian agar mereka menerima tawaran yang kita berikan” ucap Rudi.

“Oke siap pak, kami akan datangi pertemuan itu” jawab Lukman.

“Tapi ingat, sampaikan pada mereka kalau perusahaan kita hanya mendukung mereka dan tidak ada calon lain” sambung Rudi lagi.

“Apa tidak rugi memberikan bantuan dana kampanye ke kedua calon, pak? Kenapa tidak pilih salah satunya saja biar perusahaan kita tidak mengeluarkan dana yang cukup besar, pak?” tanya Anto heran.

“Hahahahahahaha, dasar kalian sangat polos sekali” kata Rudi sambil tertawa. Rudi mengecilkan suaranya, “aku memang sengaja mendanai mereka berdua, agar nantinya siapapun yang menang akan merasa berutang budi pada perusahaan kita. Inilah yang disebut strategi bisnis, tidak penting siapa yang menang atau kalah, sebab kalah jadi abu dan menang jadi babu bagi perusahaan kita”

Lukman dan Anto mengangguk pertanda mengerti. Pertemuan mereka bertiga memang digelar secara rahasia di rumah Rudi bukannya di kantor, demi menjaga agar apa yang mereka bicarakan tidak diketahui oleh buruh atau karyawan lain.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai