Hikayat Pendaki Gunung

Mendaki gunung membuatnya lupa akan perkara dunia. Perjalanan yang hanya ia dan Tuhan yang tahu. Batu-batu cadas, semak belukar, rotan berduri, hawa dingin sudah jadi kawan akrab. Baginya gunung telah menjadi rumah kedua setelah rumah orangtua, setiap kali ia gelisah, gunung menjadi tempat pelariannya. Semua orang yang mengenalnya sudah pasti tahu kebiasaan itu, namun tidakLanjutkan membaca “Hikayat Pendaki Gunung”

Bukan Hanya Sebagai Dongeng Pengantar Tidur Semata

Sudah 5 tahun semenjak lulus kuliah, aku sempat berpindah-pindah tempat kerja. Namun kini aku memilih bekerja di perusahaan tambang dan tidak ingin pindah lagi, gajinya lumayan besar, bisa untuk melunasi cicilan rumah dan mobil sekaligus. Tapi akhir-akhir ini rasanya aku ingin segera berhenti saja dari pekerjaan yang telah memberiku penghidupan selama 3 tahun terakhir bersamaLanjutkan membaca “Bukan Hanya Sebagai Dongeng Pengantar Tidur Semata”

Koran Pagi

Seperti biasa, sudah selarut ini Bahar masih saja menulis berita. Apapun itu, asal bisa dijadikan berita akan ia tulis juga. Upah dari menulis berita memang tak seberapa. Untuk beli makan saja kurang, apalagi belanja barang yang diinginkan. Kopi, mesin tik dan sebungkus rokok kretek menjadi perangkat paling penting jika ia ingin menulis berita. Sudah banyakLanjutkan membaca “Koran Pagi”

Nilai Sebuah Uang

Iya, ini malam yang tidak pernah bisa ku lupakan sampai kapanpun. Gerimis yang belum juga reda sejak sore dan waktu menunjukkan hampir tengah malam. Aku bersama motor bebek warna hitam milikku mengelilingi kota. Tanpa helm apalagi jas hujan, hanya kaos oblong dan celana jeans panjang. Ku hampiri setiap minimarket yang ada, hanya untuk mencari cairanLanjutkan membaca “Nilai Sebuah Uang”

Catatan Kaki

Perjalanan yang ku tempuh menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam perjalanan menggunakan bus. Sebagai seorang relawan pendidikan sekaligus mahasiswa memiliki tantangan tersendiri bagiku, di satu sisi harus membagi waktu antara kuliah dan program mengajar di pelosok desa. Namun demi niat baik dan pemerataan pendidikan, semua itu tidak dapat menyurutkan semangatku. Begitu senang rasanya bisa bergabungLanjutkan membaca “Catatan Kaki”

Minah Bukan Janda

Masih dengan penuh rasa khawatir orang tua itu berdiri tepat di sudut jalan, entah apa yang ia pikirkan. Namun nampak jelas ia tidak sedang baik-baik saja, kira-kira sudah ada sekitar setengah jam ia berdiri disitu, tanpa naungan atau dudukan. Lalu-lalang kendaraan disekitarnya seperti tidak menganggap keberadaannya dan anehnya lagi mengapa cuma aku yang begitu antusiasLanjutkan membaca “Minah Bukan Janda”

Di Restoran

Kami belum beranjak dari posisi sebelumnya, masih duduk berhadapan dengan meja yang menjadi penengah. Lama kami terdiam seolah ragu untuk memulai pembicaraan, sesekali tanpa sengaja kami saling menatap namun setelahnya kami saling mengalihkan pandang. Ah sial aku lelaki, seharusnya aku yang memulai pembicaraan, pikirku.                 Perlahan keringatku mulai berkucuran, detak jantung semakin kencang, waktu terasaLanjutkan membaca “Di Restoran”

OlikaKI

Setelah ditetapkannya Kadri sebagai calon nomor urut 01 dan Harun sebagai calon nomor urut 02 pilkada di Endosial, mulai banyak poster atau Baliho dari masing-masing calon terpampang di jalanan kota Endosial. Tidak peduli itu tiang listrik, dinding rumah atau pohon. Tujuan utamanya agar setiap masyarakat bisa melihatnya, mungkin bila semut memiliki hak suara pasti posterLanjutkan membaca “OlikaKI”

Guruku

Hari ini tiba-tiba ibu menelponku dan menyampaikan kabar kalau pak Usman guruku semasa SMA  meninggal dunia subuh tadi, ibu memintaku segera pulang ke desa sebagai bentuk penghargaan dan rasa hormat pada beliau beserta keluarga. Desaku memang masih memegang  budaya saling berkunjung apabila ada hajatan atau duka yang diadakan warga desa, makanya ia memintaku untuk pulang.Lanjutkan membaca “Guruku”

Gramedia Telah Kembali

Bagi saya membaca buku sudah menjadi agenda harian yang harus saya lakukan minimal satu jam dalam sehari. Kebiasaan ini juga belum lama saya lakukan, mungkin sekitar empat atau lima bulan yang lalu. Awalnya membaca buku hanya saya jadikan sebagai selingan apabila tidak sedang berbuat apa-apa atau hanya sekedar penghilang rasa bosan. Namun semuanya berubah ketikaLanjutkan membaca “Gramedia Telah Kembali”

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai